Membangun Jiwa Cinta Akhirat

Label:

"Barang siapa yang akherat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran  berada didepan matanya serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya." {Hadits Riwayat Tirmidzi}

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosullullah ` Amma ba'd:

Kami mengajak anda untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan menyimak firman-Nya:
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat." [Asy-Syuro (42): 20]

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan." [hud (11): 15]

"…. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", tetapi tiadalah bagian (yang menyenangkan) baginya di akhirat." [Al-Baqoroh (2): 200]

Allah telah menciptakan dunia serta menyimpan bermacam kekayaan, kebaikan dan keindahan di dalamnya; menjadikan kita menyukai sebagian kenikmatannya; sekaligus menghalalkan dan tidak mengharamkannya bagi kita; sebagai wujud kemurahan dan karunia-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan- Nya untuk hamba-hamba- Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik? " [Al-A'rof (7): 32]
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. " [Al-Mulk (67): 15]

Bukankah Allah juga berfirman:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak ……."  [Ali 'Imron (3): 14]

Kemudian Allah menjelaskan bahwa di akherat ada yang lebih baik dari pada dunia beserta kelezatannya tadi:
"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal."  [Al-'Ala (87): 17]

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabatnya makna sebuah keuntungan dengan kaca mata akherat. Inilah seorang sahabat mulia bernama Shuhaib Ar-Rumi. Ketika itu ia merelakan semua hartanya dirampas oleh orang – orang kafir agar ia bisa leluasa berhijrah. Meskipun begitu, akhirnya Nabi shallallahu'alaihi wa salla sendiri yang menyambut kedatangannya seraya bersabda:
"…..perdagangan yang menguntungkan wahai Abu Yahya… perdagangan yang menguntungkan wahai Abu yahya!" [Hadist Riwayat Muslim]
Jadi, Shuhaib termasuk orang yang beruntung menurut tolak ukur akherat, sebab ia rela menjual dunia yang sementara,ditukar dengan akherat yang abadi.

Satu lagi, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar memakai tolak ukur akherat dengan sabdanya:  
"Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati ialah kekayaan jiwa" [Hadits Riwayat Muslim]
Menerangkan hadist ini, Ibnu Bathal berkata,
"Makna hadits ini ialah: hakekat kekayaan bukanlah banyaknya harta, sebab mayoritas orang yang di lapangkan hartanya oleh Allah, tidak pernah merasa puas dengan pemberian tersebut. Ia berusaha mencari tambahan tanpa perduli dari mana asalnya. Nah, seolah-olah ia justru menjadi fakir disebabkan ambisinya tersebut. Jadi, kekayaan hakiki adalah kekayaan jiwa; yaitu siapa yang merasa cukup dengan apa yang di anugerahkan kepadanya, Qona'ah (puas) dan ridho dengannya. Ia juga tidak berambisi untuk mencari tambahan terus-menerus, sehingga dia seperti orang kaya."

Karena itulah, seorang mukmin yang yakin serta berjalan di atas manhaj Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu'alaihi wa sallam, menurut rambu-rambu, kriteria-kriteria dan timbangan-timbangan yang lurus, merupakan orang yang bahagia; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akherat. Ketahuilah, kriteria-kriteria inilah memotivasinya untuk selalu berorientasi kepada akherat dan senantiasa sibuk hati di dalam memperhatikan akherat. Kitabullah menjadikannya selalu menghidupkan harapan ini, demikian juga sunnah Nabinya shallallahu'alaihi wa sallam senantiasa menyibukkannya dengan keinginan ini. Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang akherat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya." [Hadits Riwayat Tirmidzi]

Maka orang yang mengerti tujuan dirinya diciptakan yaitu beribadah kepada allah subhanahu wa ta'ala, lantas menjadikan tujuan ini sebagai cita-cita yang menyibukkan dirinya, dan tidak akan bekerja di dunia melainkan berharap tujuan ini terpenuhi; Allah subhanahu wa ta'ala pasti memudahkan urusan-urusannya yang murni bersifat duniawi dan menghindarkannya dari beban penderitaan dalam mengejar-ngejarnya.

Sementara itu, kita menyaksikan bagaimana orang yang melupakan tujuan penciptaan dirinya, yang menjadikan dunia sebagai tujuan pertama dan terakhirnya dan melulu berfikir tentang keinginan hawa nafsunya, justru dunia lari menjauhinya sedangkan ia menggonggong mengejar-ngejarnya.

Inilah komparasi yang selalu diwasiatkan oleh orang-orang sholeh, satu sama lain.
Ada seorang tabi'in mulia, bernama 'Aun bin 'Abdullah ia berkata:
"Dulu, orang-orang baik satu sama lain menuliskan dan menasehatkan tiga kalimat berikut:
1.  Siapa yang beramal untuk akheratnya, Allah subhanahu wa ta'ala akan mencukupi dunianya.
2. Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah Ta'ala, Allah akan memperbaiki hubungan dirinya dengan manusia yang lain.
3. Dan siapa yang memperbaiki keadaan batinnya, Allah subhanahu wa ta'ala akan memperbaiki keadaan lahirnya.
Barang siapa akherat menjadi aktivitas yang menyibukkannya dan selalu menjadi harapannya, maka tak akan pernah terlewatkan satu haripun melainkan ia mengingat kemana ia akan kembali. Ia tidak akan melihat urusan dunia kecuali pasti mengaikannya dengan akheret. Ia tidak berkumpul dengan keluarganya kecuali mengingatkannya akan berkumpulnya penduduk surga. Ia tidak mengenakan pakaian kecuali teringat akan pakaian sutra milik penghuni surga. Ia tidak menyeberangi sebuah jembatan kecuali teringatkan akan titian shiroth di atas neraka jahanam. Ia tidak mendengar suara yang keras melainkan mengingatkannya akan tiupan sangkakala. Ia tidak pernah berbicara tentang suatu pembicaraan, melainkan ada bagian yang terkaitkan dangan akherat." 

Nikmatnya Menjadi Pendamba Akherat
Ringkasnya, siapa yang menjadikan akherat sebagai harapannya, pasti ingat akan akherat setiap saat ketika ia sedang bergelut dengan dunia. Anda akan melihat orang seperti ini tidak merasa senang kecuali karena akherat, tidak merasa sedih kecuali karena akherat, tidak ridho kecuali akherat tidak marah kecuali karena akherat, dan tidak berusaha kecuali untuk akherat. Tidak mengherankan kalau ia selalu mengingat-ingat akherat baik dalam bekerja, berjual beli, memberi dan menolak, serta dalam segala urusan. Barang siapa  yang keadaannya seperti ini, Allah akan memberinya tiga kenikmatan dan Nabi shallallahu'alaihi wa sallam memberinya tiga kabar gembira, yaitu:

1.  Allah Akan Mempersatukannya
Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan ketenangan dan ketentraman kepadanya. Allah juga akan menghimpun fikirannya serta menjadikannya jarang lupa. Demikian juga keluarganya, mereka akan berkumpul bersamanya. Allah akan menambah perasaan kasih sayang antara dirinya dan keluarganya dan menjadikan mereka begitu menurut kepadanya. Allah juga mempesatukan kerabatnya bersamanya serta menghindarkannya dari perpecahan dan terputusnya hubungan. Ringkasnya, dunia akan disatukan untuk dirinya. Semua itu dan semua yang diinginkannya dalam rangka ketaatan kepada Allah, disatukan padanya, untuknya, dan sekelilingnya. Hati manusia akan berkumpul kepadanya setelah Allah tetapkan ia mendapat kepercayaan dari kalangan penduduk bumi.

2. Allah Subhanahu wa Ta'ala Akan Memberikan Kekayaan Hati
Sesungguhnya nikmat kekayaan hati merupakan sebuah nikmat agung. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dia kehendaki dari hamba-hamba- Nya. Mengenai firman Allah:

"……Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik……" [An-Nahl (16): 97]
Ibnu Katsir menafsirkan "Kehidupan yang baik" di ayat ini dengan sikap ridho dan qona'ah (menerima) yang itu merupakan kekayaan mental dan sikap menerima terhadap rezeki yang diberikan, sehingga ia tidak ngotot dalam memburunya.

Sesungguhnya kekayaan bukanlah cincin-cincin emas pada jari tangan, bukan kendaraan, rumah, pakaian, dan perhiasan. Betapa banyak orang yang memiliki semua itu, namun kita saksikan bagaimana harta itu justru menjadikannya tak bisa tidur. Gara-gara pakaian, nikmat tidurnya terampas dari kedua matanya; gara-gara makanan dia harus kehilangan kesempatan-kesempatan berharganya, bahkan mungkin ia disodori berbagai manu makanan, namun tak bisa menikmatinya.

Berbeda dengan orang yang berorientasikan akherat. Kita saksikan ia merasa rela, menerima, bahagia, tersenyum, senang hati, pandangannya teduh, merasa ridho sekaligus diridhoi, tidak ngotot, dan tidak rakus terhadap dunia. Ia mengamalkan sabda Nabinya shallallahu'alaihi wa sallam:
"Bertakwalah kalian pada Allah, carilah rezeki dengan cara yang baik."  [Hadits riwayat Ibnu Majah]

Artinya, berusahalah dengan usaha yang sah sesuai aturan yang dibolehkan dalam mencari rezeki duniawi. Hendaknya manusia tidak menjadikan dunia sebagai obsesinya, sehingga menyibukkan dirinya, tidur dan bangunnya  hanya untuk dunia, berfikir dan merencanakan dunia dalam sebagian besar waktu.

Kita juga akan saksikan seorang hamba yang kaya hatinya tidak segan-segan untuk memberikan harta dunianya, tidak merasa sedih kalau ia hilang, sebagaimana tidak merasa sukaria tatkala ia datang:

"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…. " [Al-Hadid (57): 23]
Anda akan melihat orang ini tidak mengharamkan kesenangan bagi dirinya, tetapai jika kesenangan itu datang, maka kedatangannya semata karena hak Allah Ta'ala, sebaliknya bila kesenangan itu pergi, maka kepergiannya tak lain karena ketentuan Allah.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kesenangan duniawi yang datang kepada kita itu sebagai sarana yang membantu kita dalam mentaati-Nya dan menjadikan kesenangan duniawi yang hilang dari kita adalah keburukan yang ingin Allah jauhkan dari kita.

3. Dunia Akan Datang Dalam Keadaan Tunduk
Ini merupakan nikmat ketiga yang Allah berikan kepada hamba tadi. Dunia ini memang mengherankan; semakin anda kejar, semakin ia lari menjauh dari anda, tetapi kalau anda berpaling darinya, ia justru mengejar anda. Ini bukan sekedar teori. Banyak orang sholih ketika menceritakan keadaan kehidupan duniawinya, mengatakan, "Kami sibuk dengan agama kami dan dunia dengan sendirinya datang kepada kami." Persis sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu Jauzi rahimahullah ketika beliau mengatakan,
"Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari bayangan, ia justru menguntit anda, tetapi jika anda mencari-carinya, ia justru malas mendatangi anda."
Oleh karena itu, para pendamba akherat yang hatinya sibuk dengan akherat akan didatangi oleh dunia atas izin Allah, kemudian dunia akan meliputinya. Maka orang yang berakal akan menghadapkan dirinya kepada akherat dan dunia pun akan mendatanginya dengan sukarela. Sesungguhnya dunia itu berasal dari Allah, sementara akherat itu kembali menghadap Allah. Barangsiapa yang mencari akherat, Allah akan mengutus dan mengirim dunia kepadanya.

Akibat Buruk Pendamba Dunia
Adapun orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, kemudian berpikir dan bekerja semata-mata untuk dunia, perhatiannya hanya tertuju pada dunia yang memang itu tujuannya, ia merasa ridho, marah, suka dan benci disebabkan dunia, senyuman dan celaanya hanya karena dan untuk dunia, maka orang seperti ini hendaknya mengerti bahwa Allah akan menyiksanya dengan tiga hukuman, yaitu:

1. Allah Akan Mencerai-beraikannya
Tidak ada sesuatupun yang mengelilinginya kecuali Allah jadikan tercerai-berai. Tidak mengherankan kalau anda akan melihat perasaannya tak karuan, pikirannya goncang dan sering frustasi gara-gara urusan duniawi yang sebenarnya sepele. Ia akan melihat harta, keluarga dan sanak familinya menjauh darinya, meskipun ia melihat mereka berada di depan mata. Ada segolongan manusia yang memiliki hampir seluruh kenikmatan dunia, pada waktu yang sama kita menyaksikan anak-anaknya hanya bisa terus berangan-angan akan berkesempatan berjumpa dengannya meski hanya satu menit. Para pegawainya justru lebih sering melihatnya dibanding anak-anaknya sendiri. Ini semua karena dunia telah menjadi tujuan.

Demikian pula anda akan melihat dunia beserta kelezatan dan kemegahannya, juga berbagai menu makanan lezat berada didepan matanya, tetapi ia tidak menyentuhnya sedikitpun. Ia makan laksana makannya orang melarat, entah karena penyakit yang ia derita ataupun sebab yang lain. Kadang-kadang makanan itu tidak mencapai kerongkongannya, meskipun hanya sedikit bukan karena sakit tetapi karena memikirkan beban ambisi duniawi dan padatnya kesibukan. Diantara mereka (terutama dikalangan wanita) ada yang tertekan oleh rasa khawatir terhadap kecantikan dan penampilannya yang menawan, lalu ia makan seperti makannya orang- orang miskin, padahal meja hidangan terbentang penuh dengan berbagai menu makanan. Kondisi seperti ini, apalagi kalau bukan sebuah bentuk kesemrawutan?

2. Kemiskinan Akan Selalu Menghantuinya
Akibatnya, ia tidak bisa merasakan sikap Qonaáh (puas dan menerima) sampai kapanpun meskipun ia berkecukupan.  Ia selalu saja merasa butuh, menjulur-julurkan lidahnya, mengejar gemerlapnya dunia dan perhiasanya yang sebenarnya itu hanya akan menambah kepayahan, kegundahan serta kerisauannya. Ketika dikatakan kepadanya: "Ada orang yang membutuhkan bantuan", tentu ia tidak memberinya, kalau toh memberi hanya sedikit dibandingkan dengan harta yang ia miliki. Lain tatkala salah seorang anaknya meminta alat-alat mainan dan bernilai mungkar, tentu akan ia berikan, seberapa pun mahalnya, asal keinginan anaknya itu terpenuhi. Anda akan melihat orang seperti ini begitu sayang kalau hartannya berkurang. Ia begitu mudah menghamburkannya untuk hal yang sia-sia, memenuhi syahwat dan perbuatan haram, tetapi begitu pelit dan bakhil serta kekurangan untuk bersedekah dan berbuat baik.

Termasuk kasus yang mengherankan, ada sebagian manusia yang telah Allah cukupi dengan keluasan karuni-Nya, tetapi kalau diminta untuk turut andil dalam pembangunan sebuah masjid -misalnya- atau membiayai seorang daí, membantu sebuah keluarga, atau membiayai anak-anak yatim, ia beralasan hartanya hanya sedikit dan tak sanggup melakukannya. Pada saat yang sama, kalau ada tawaran untuk melakukan taour keberbagai negara dunia, mengunjungi pemandangan- pemandangan haram serta suasana-suasana yang tidak diridhoi Allah yang ada disana, tentu uang beribu-ribu bahkan beratus-ratus ribu sangat remeh untuk memenuhinya. Sungguh, dialah orang fakir sejati.

3. Dunia Akan Lari Menjauhinya
Ia megejar-ngejar dunia, padahal dunia justru menjauh darinya; Ia berlari membuntuti dunia, kemudian meminum sebagian darinya seperti orang yang menciduk air laut untuk diminum; setiap kali minum, rasa hausnya semakin bertambah. Memang di antara mereka ada yang berbuat baik, tetapi mengharap pujian, ketenaran, popularitas, atau sebagai balas jasa. Ia menghabiskan umurnya hanya untuk tujuan tersebut, sayang ternyata semua itu malah menjauhinya, sebagai hukuman yang Allah timpakan kepadanya.

Sahabat Usman bin Affan radhiyallahu'anhu berkata:
"Harapan terhadap dunia adalah kegelapan dalam hati, sedang harapan kepada akherat adalah cahaya dalam hati."
Orang yang mau memperhatikan keadaan dua kelompok yang berbeda tadi akan melihat adanya perbedaan yang menakjubkan.

Dalam persoalan ini, manusia terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Orang yang lebih didominasi oleh keinginan akherat, kemudian ia bekerja untuk dunia dengan menggunakan kaca mata akherat, lantas mengertilah ia bahwa dunia hanya sebagai jembatan untuk sampai ke negeri akherat.

Tentu anda akan menganggap tak waras apabila melihat seseorang yang melewati sebuah jembatan yang menghantarkannaya dari satu negeri ke negeri yang lain, kemudian tatkala ia sampai dipertengahan malah menderumkan kendaraannya dan mendirikan tendanya serta menurunkan keluarganya disana seraya mengatakan, "Inilah ujung jalan paling akhir." Apakah anda akan menganggap orang seperti ini sebagai orang yang berakal meskipun sebenarnya ia tertipu dengan pemandangan di sekeliling jalan tersebut?

2. Orang yang lebih di dominasi oleh raya cinta terhadap dunia sanpai melupakannya dari akherat, hati mereka lebih tersibukkan oleh keinginan duniawi.

3. Orang yang sibuk dengan dunia dan akherat sekaligus, mereka mencampur-adukkan keduanya. Celakanya, golongan seperi ini begitu banyak di jaman sekarang. Sebab mereka tidak berada dalam posisi yang aman tetapi di tepi jurang marabahaya.

Tentang ketiga golongan ini Yahya bi Mua'adz menyebutkan:
"Manusia itu ada tiga: Orang yang akheratnya menjadikannya tak sempat mengurusi dunianya, dan orang yang kehidupan dunianya menjadikannya tak sempat mengurusi akheratnya, dan orang yang sibuk dengan kedua-duanya sekaligus. Yang pertama adalah derajat orang-orang yang beruntung, yang kedua adalah derajat orang –orang yang binasa, sedang yang ketiga adalah derajat orang-orang yang berada dalam marabahaya.

"Tidaklah seseorang itu memperbanyak mengingat kematian malainkan akan terlihat dalam amalannya, dan panjangnya angan seorang hamba itu pasti terlihat dari buruknya amalan dia." (Hasan Al-Bashri) . 

"Demi Allah, sampai kapan pun tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kesedihan mengingat akherat dan rasa senang dengan dunia, sesungguhnya salah satu akan menghalau pemiliknya." (Malik bin Dinar) 

Ciri-Ciri Orang Yang berorientasi Akherat 

1.   Rasa Takut dan Sedih
Meskipun mereka berharap terhadap rahmat Allah dan tetap mentaati-Nya, namun mereka tidak bergantung begitu saja kepada semua itu, tetapi mereka justru merasa sedih atas segala kekurangan dan mereka juga diliputi rasa sesal setiap kali berbuat dosa meskipun kecil. Jiwa mereka keluar dari suasana kebekuaan dan kedunguan, mereka selalu dalam keadaan sadar dan ingat.

Mereka merasa sedih dengan kezhaliman, penindasan dan pengusiran yang menimpa kaum muslimin. Mereka merasa sedih dengan kerendahan, kelemahan dan kehinaan yang dicapai kaum muslimin. Mereka merasa sedih melihat keadaan kaum muslimin yang terjerumus dalam kemaksiatan, penyimpangan dan berkubang dalam kenikmatan. Demikian pula dengan lingkungan dimana saudara-saudaranya hidup dalam kelalaian dan jauh dari Allah. Wanita-wanita yang bersufur dan bertabaruj menjadikan mereka sedih. Media-media bobrok dan destruktif yang mereka saksikan membuat mereka  sedih.

Kesedihan dan kekhawatiran yang paling dahsyat adalah masalah akhir hayat, bahkan inilah kesedihan yang menjadikan hati mereka teriris dan mata mereka penuh tangisan air mata karena takut mati dalam keadan su'ul khotimah.

Sufyan Tsauri pernah berkata,
"Aku khawatir dicatat dalam Ummul Kitab menjadi orang yang merugi, aku takut imanku tercabut menjelang datangnya kematian."

Malik bin Dinar pernah sholat sepanjang malam sambil menggengam jenggotnya sembari berkata,
"Wahai Rabbku, Engkau telah mengetahui siapa penghuni surga dan siapa penghuni neraka, maka di negeri manakah Malik (bin Dinar) ini akan tinggal ?" 

Sesungguhnya urusan akherat hayat telah merobohkan tempat tidur-tempat tidur mereka, namun mereka sama sekali tidak tertipu dengan banyaknya ibadah yang  mereka lakukan.

Ibnu Rojab berkata,
"Sesungguhnya akhir hayat yang jelek itu terjadi karena ada sesuatu yang tersemunyi pada seorang hamba, di mana manusia tidak mengetahuinya yang ini menyebabkan akhir yang jelek ketika mati."

Ibnu Qoyyim berkata,
"Seandainya tidak ada kecurangan dan kerusakan niscaya Allah tidak akan membalikkan keimanannya. "
Sesungguhnya kesedihan mereka ini selalu mendorong untuk selalu bertaubat dan membersihkan diri dari berbagai debu dosa. Apabila mereka tertinggal sholat fajar, dapat diketahui ketika pagi atau siang harinya, dan mereka berusaha untuk mengganti yang tertinggal tadi dengan dengan sesegera dan secepat mungkin berbuat kebajikan, terkadang ia akan berwudhu kemudian menunggu sholat yang berikutnya sebagai  ganti dari apa yang tertinggal.

Anda akan melihatnya sedih dan susah dengan dosa dan kesalahan yang dia lakukan sampai ia bisa menghapusnya dengan kebaikan,
"Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk….. " [Hud (11): 114]
Berbeda dengan para pedamba dunia, kesedihan dan kesusahan mereka semata-mata karena dunia. Ia membuat kesedihan dan kesusuhan karena memikirkan urusan masa depan dan rezeki. Ada seorang wanita yang mengatakan, "Semalaman aku tidak tidur memikirkan model busana yang akan kukenangkan. "

2. Tekun Dalam Beramal Untuk Akherat
Kesedihan yang menimpa mereka disebabkan pengharapan terhadap akherat, rasa takut dan senantiasa mengingat kematian tidak menjadikan mereka mengurung diri di dalam rumah dan menangisi diri mereka, tetapi kesedihan itu justru menjadi penggerak terbesar bagi mereka untuk memperbaiki dan menyucikan diri serta bersegera sebelum waktu berlalu. Oleh karena itu Malik bin dinar pernah mengatakan,
"segala sesuatu itu ada penyemangatnya, dan penyemangat untuk beramal sholeh adalah kesedihan." 
Rasa takut para pendamba akherat menghasung mereka untuk menambah amal kebajikan, sementara orang yang merasa aman dan tertipu dengan amalan yang telah ia kerjakan akan di kuasai perasaan malas dan menunda-nunda pekerjaan, ia sangat jarang bersikap wara' karena mengandalkan ampunan dari Rabbnya, makanya Hatin Al-Asham mengatakan:
"Barang siapa yang hatinya kosong dari mengingat empat masa yang mendebarkan, maka ia termasuk oarang yang tertipu dan tidak akan selamat dari kebinasaan:
Pertama: Saat mendebarkan ketika hari mitsaq (diambil perjanjian) tatkala dikatakan, 'Golongan ini berada di surga dan aku tidak perduli, dan golongan yang ini berada di neraka dan aku tidak perduli, sementara ia tidak mengetahui masuk golongan manakah dirinya?'
Kedua: saat mendebarkan tatkala ia diciptakan dalam tiga kegelapan; lalu malaikat menyerukan akan kesengsaraan atau kebahagiaan, sementara ia tidak mengerti apakah ia termasuk orang yang sengsara atau orang yang berbahagia?
Ketiga: Ketika ia di perlihatkan kepada amalanya, sementara ia tidak tau apakah ia akan mendapat kabar gembira memperoleh ridho Allah atau kemurkaan-Nya?
Keempat: Dari ketika manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, sementara ia tidak tau jalan mana yang hendak ia tempuh?" 

3. Terkesan Melihat Kematian Serta Membayangkan Bagaimana Kematian Yang Sesungguhnya
Hal itu menjadikan hatinya hidup, mereka selalu mengkaitkan apa yang mereka saksikan di dunia dengan kehidupan akherat. Dan sesuatu yang paling membekas adalah kematian yang pernah meraka saksikan serta saat-saat sekarat.

Seorang tabi'in agung; Ibrohim An-Nakho'i berkata,
"Apabila kami menghadiri jenazah atau mendengar berita kematian, kami dapat mengetahuinya beberapa hari sebelumnya, dikarenakan kami tahu ada sebuah peristiwa yang menimpanya di mana itu akan menghantarkannya kesurga atau pun keneraka."
Orang yang sering mengingat kematian hatinya akan selalu teringat kepada akherat dan rasa takut kepada-Nya akan bertambah, kemudian dunia akan hilang dari pandangannya, Syamith bin Aj'lan berkata,
"Barang siapa yang menjadikan kematian separoh pandangan matanya, maka ia tidak akan perduli dengan sempit maupun lapangnya urusan dunia." 

Semua ini tersimpulkan dalam perkataan Hasan Al-Bashri,
"Tidaklah seseorang itu memperbanyak mengingat kematian malainkan akan terlihat dalam amalannya, dan panjangnya angan seorang hamba itu pasti terlihat dari buruknya amalan dia."

Adapun para pedamba dunia yang hatinya mengeras serta terselubungi kelalaian, mereka akan berpaling dari mengingat kematian, ia merasa terganggu untuk mengingatnya dan mengira bahwa itu dapat memalingkannya dari kematiannya atau dapat menipu kematian itu, padahal sebenarnya mereka menipu diri mereka sendiri.
Al-Quran telah membantah orang-orang yang memiliki konyol seperti ini:
"Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, ……" [Al-Jumu'ah (62): 8]

Sebab-Sebab Yang Menghalangi Dari mengingat Akherat

1.  Mengejar dan Berambisi kepada Dunia
Tak dapat dipungkiri bahwa sibuk mengurusi dunia dengan melalaikan akheratlah sebab terbesar lemahnya persiapan guna beramal untuk kehidupan setelah mati.

Makna dicelanya menyibukkan diri dengan urusan dunia adalah kalau semua urusan dunia itu baik berupa harta, istri, anak, rumah, dan makanan menjadi tujuan dan orientasi, dan dunia itu dicintai serta ditaati selain Allah 'Azza wa jalla. Semakin hamba itu memperhatikan dunia dan bergerak semata karenanya, semakin keluar dari hatinya keinginan terhadap akherat serta beramal untuknya, sebagai mana dikatakan oleh Malik bin Dinar,
"Demi Allah, sampai kapan pun tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kesedihan mengingat akherat dan rasa senang dengan dunia, sesungguhnya salah satu akan menghalau pemiliknya." 

2.  Tidak Pernah Mengingat Mati Serta Kedahsyatan hari kiamat
Maka tidak pernah terlintas dalam fikiran mereka baik ketika sholat, terdiam dan ketika meyendiri serta dalam semua tindakannya bayangan tentang negeri akherat, mengingat kematian dan apa yang akan terjadi sesudah itu. Mereka tidak merasakan dan meresapi suasana pemandangan akhjerat, akhirnya waktu dan umur mereka terbuang sia-sia.

Adapun pendamba akherat, perasan mereka sangat peka dan tajam untuk mengingat akherat dalam segala kondisi dan tempat, mereka merasa muak menyaksikan orang-orang yang lalai dimana waktu mereka habis untuk tertawa dan berolok-olok. Pengaruh seperti ini dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan Hasan Al-Bashri, dalam sebuah kisahnya disebutkan bahwa bia pernah melewati seseorang yang tertawa, maka ia berkata kepadanya,
"Wahai anak saudaraku, apakah anda pernah melewati Shiroth?" tentu saja ia menjawab, "Belum " Hasan  Bashri pun berujar, " lantas tahukah anda, kesurga ataukah keneraka anda akan pergi?" lelaki itu menjawab lagi, "Tentu saja tidak" Beliau berkata, "semoga Allah melimpahkan kesejehteraan pada anda, lalu mengapa anda sempat-sempatnya tertawa padahal urusan begitu mengerikan."
Meskipun begitu, tertawa sendiri merupakan  naluri kemanusiaan yang tidak bisa dihindari, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Dan bahwasanya dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,"  [An-Najm (53): 43]

Rasullah shallallahu'alaihi wa sallam juga pernah tertawa hingga nampak gigi gerahamnya, tetapi tertawa yang dilarang disini adalah ketika berlarut-larut dan lalai sebagaimana tertawanya kebanyakan orang yang mana mereka  mengundang tawa dengan saling mencela  dan perkataan-perkataan dusta, ia tidak terdiam kecuali bagaimana bisa tertawa dan tidak memandang kecuali apa yang bisa membuat tertawa.

3.  Merasa Aman dalam kondisi Sehat
Di antara mereka ada yang tertipu dengan kondisa sehat wal afiat dan masa muda. Padahal kalau ia mau mengerti, kesehatan itu ibarat titipan, yang sangat mungkin titipan itu diminta kembali ketika nyawa masih melekat di badan. Terlebih lagi kalau kesehatan ini di iringi adanya kekuasaan, pangkat dan kekayaan, ia akan semakin lupa kepada akherat dan lalai untuk menyiapkan perbekalan ke sana.

Seorang penyair bersenandung:
Apabila orang telah melahirkan keturunannya
Lalu ia di uji lantaran tubuhnya telah renta
Dan ia di timpa penyakit berkali-kali
Itu pertanda sebentar lagi masa mengetam tanaman telah tiba

Di sini, sang penyair menyebutkan ada tiga pertanda kematian yang telah dekat; ketika ia telah menyaksikan anak cucunya, melemahnya badan karena tua dan penyakit yang datang berturut-turut. Sesehat apapun dia, ia tetaplah ibarat tanaman yang sudah ranum dam matang di mana masa memetiknya hampir tiba.

Beberapa  Teladan dari Pencinta akherat
Kalau kita mau menelusuri kisah-kisah para Sahabat, Tabi'in dan para Salafus Sholih serta bagai mana mereka begitu perhatian dan sibuk dengan urusan akherat, tentu kita akn melihat sesuatu yang begitu menakjubkan. Di antara kisahnya,

Pernah pada suatu hari, 'Umar dalam sholat fajar membaca ayat:
"Apabila ditiup sangkakala," {Al-Muddatstsir (74): 8}
Seketika itu juga ia tersungkur dan sakit sampai orang-orang pada menjenguknya.

Ibnu Mas'ud tak jauh berbada dengan sahabat yang lain, ia selalu mengkaitkan apa yang ia lihat dengan kehidupan akherat, pernah suatu ketika ia melihat alat peniup pandai besi sampai-sampai ia terjatuh. Pernah juga ketika ia menyaksikan para pandai besi, begitu menyaksikan besi yang terpanggang ia langsung menangis.

Adalah Sufyan Tsauri disebabkan ketergantungannya yang begitu hebat kepada akherat serta sibuknya pikiran dia padanya, seolah ia datang langsung dari sana untuk menceritakan tentangnya dan ia seperti menyaksikannya sendiri. Abu Nua'im mengisahkan,
"Apabila Sufyan ingat akan kematian, ia tidak akan bisa diusik selama beberapa hari."

Ibnu Mahdi berkata,
"Aku belum pernah bergaul dengan manusia yang lebih halus perasaannya melebihi dia. Ia tidak pernah tidur kecuali di awal malam, tiba-tiba saja ia bergetar ketakutan seraya berteriak, 'Neraka! Neraka! Neraka benar-benar membuatku tidak sempat untuk tidur dan memenuhi syahwat.' "

Ada wanita ahli ibadah bernama Robi'ah Asy-Syamiyah yang mengatakan,
"Tidaklah aku mendengar suara adzan melainkan aku teringat akan penyeru di hari kiamat, tidaklah aku melihat putihnya salju melainkan seolah aku  menyaksikan pembagian lembar catatan amal dan tidaklah aku melihat gerombolan belalang melainkan teringat akan hari perhimpunan. "

Mathor Al-Waroq menceritakan perihal dirinya dan temannya seorang tabi'in bernama Harom bin Hayyan, bahwa keduanya terkadang mendatangi pasar Roihan bersama-sama di waktu siang, lalu keduanya berdoa memohon pada Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian bila mereka datang kepada pandai besi, meraka berlindung kapada Allah Ta'ala dari neraka sebelum akhirnya berpisah menuju rumah masing-masing.

Inilah sekelumit tauladan dari para generasi yang mulia tadi, di mana mereka selalu menyimpan cita-cita akherat, kemudiam mengaitkan kehidupan dan segala yang mereka lihat di dunia dengan kehidupan akherat.'

Kita memohon kepada Allah 'Azza wa jalla agar selalu melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk beramal sholih, serta berkenan menganugerahkan kepada kita tauladan yang baik, dan kita berlindung kepada-Nya dari kelalaian serta godaan-godaan setan.

Tak lupa juga kita memohon kepada Allah untuk menjadikan akibat yang baik dalam setiap urusan serta menghindarkan kita dari kehinaan di dunia dan siksa di akherat. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam beserta seganap keluarga dan sahabatnya.

__________________________________
Di tulis ulang dari buku: "Zuhud Dunia Cinta Akherat Sikap Hidup Para Nabi Dan Orang-Orang Sholih" Penerbit Al-Qowam Cetakan III Halaman 155-192 Oleh Ummu Cinta_Jmbi

Sumber:  http://jilbab.or.id/archives/67-membangun-jiwa-cinta-akhirat-2/#more-67

 
Test © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone