Kebenaran Islam

Label: , ,

Oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi

Kebenaran agama Islam adalah perkara yang sudah jelas dan gamblang. Ia bukan perkara yang samar atau membingungkan, sehingga tidak layak untuk mempertanyakan dan meragukannya.

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akhirat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. al-Ma'idah: 3)

Dalam tafsirnya [2/19] Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari QS. Ali Imran: 19 di atas. Beliau berkata, “Ini merupakan informasi dari Allah ta'ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat dari Islam itu adalah mengikuti ajaran para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan masih memeluk agama selain yang disyari'atkan oleh beliau maka tidak diterima...”

Syaikh as-Sa'di rahimahullah berkata ketika menjelaskan maksud dari QS. Ali Imran: 85 di atas, “Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Sebab agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki tiket untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 137)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya diutus untuk orang Arab saja. Ajaran beliau adalah ajaran yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Wahai umat manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A'raaf: 158).

Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), “Maha berkah Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur'an) kepada hamba-Nya [Muhammad] agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (QS. al-Furqan: 1). Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan untuk segenap manusia, sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan.” (QS. Saba': 28). (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [2/20], Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 166-167 oleh Ibnu Abil Izz al-Hanafi)    

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu nabi itu diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih tegas lagi, Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku di antara umat ini, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Sehingga syari'atnya cocok untuk diterapkan dimana pun dan kapan pun. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.” (QS. al-Ahzab: 40). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Karena beliau adalah penutup nabi-nabi maka syari'atnya cocok untuk setiap masa dan tempat...” (Syarh 'Aqidatu Ahlis Sunnah wal Jama'ah, hal. 259).

Berkenaan dengan itu pula, Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. al-Ma'idah: 3)

Ibnu Katsir rahimahullah [3/20] berkata mengomentari ayat ini, “Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta'ala untuk umat ini. Dimana Allah ta'ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta'ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia...”

Maka siapa pun yang mendambakan hidayah Allah, tidak ada jalan baginya selain mengikuti agama Islam yang dibawa dan diterangkan dengan jelas oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan merupakan warisan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Allah ta'ala menceritakan perkataan para penganut agama yang batil itu dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka berkata: Jadilah kalian beragama Yahudi atau Nasrani niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk! Katakanlah: [Tidak] Akan tetapi kami akan mengikuti agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Baqarah: 135)

Para penganut agama Yahudi dan Nasrani mengajak kaum muslimin untuk masuk ke dalam agama mereka. Mereka menyangka bahwa diri mereka mendapatkan hidayah sedangkan selain mereka adalah sesat. Jawablah ajakan mereka itu dengan jawaban yang memuaskan, “Tidak, akan tetapi kami akan tetap mengikuti Millah Ibrahim yang lurus.” Yaitu ajaran untuk menghamba kepada Allah serta berpaling dari selain-Nya. Menjalankan tauhid serta meninggalkan syirik dan pemberhalaan. Inilah ajaran yang jika diikuti akan mendatangkan petunjuk, sedangkan orang yang berpaling dari millah/ajaran ini pasti akan terjerumus dalam kekafiran dan kesesatan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 67 oleh Syaikh as-Sa'di)

Millah Ibrahim adalah ajaran untuk bertauhid dan melepaskan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Allah ta'ala mengisahkan seruan Ibrahim 'alaihis salam kepada kaumnya dalam firman-Nya (yang artinya), “Ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala sesembahan kalian kecuali Dzat Yang telah menciptakan diriku, karena Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.” (QS. az-Zukhruf: 26-27).

Ayat yang agung ini sekaligus menunjukkan kepada kita bahwa pengakuan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang musyrik bahwa mereka juga berada di atas jalan Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah sebuah kepalsuan dan dusta belaka (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 764). Bahkan, Allah ta'ala telah berfirman (yang artinya), “Ibrahim bukanlah Yahudi, bukan pula Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)
____________
Sumber: Artikel facebook Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi

 
Test © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone